SELAMAT DANTANG DI AJANG SILATHURAHMI

bisnis center

Jumat, 30 Desember 2011

AS Sediakan Pesawat Tempur F-15SA bagi Angkatan Udara Saudi

,


Amerika mengatakan akan menyediakan pesawat tempur bagi angkatan udara Saudi berdasarkan perjanjian baru bernilai 29,4 milyar dolar.

Foto: Wikipedia
Jenis pesawat jet tempur F15E yang dipesan Angkatan Udara Saudi dan di-upgrade menjadi F15SA (Saudi Advanced).
Dalam sebuah pernyataan hari Kamis, Gedung Putih mengatakan Amerika dan pemerintah Arab Saudi menandatangani perjanjian bagi Amerika untuk menyediakan pesawat tempur canggih F-15SA (Saudi Advanced) kepada Angkatan Bersenjata Kerajaan Arab Saudi.
Dikatakan perjanjian tersebut mencakup produksi 84 pesawat baru dan modernisasi 70 pesawat yang sudah ada. Pernyataan Gedung Putih mengatakan pesawat Boeing "termasuk di antara pesawat yang paling canggih dan handal di dunia."
Gedung Putih mengutip para pakar industri yang mengatakan kesepakatan menjual jet-jet tempur itu akan menciptakan lebih dari 50.000 lapangan kerja di Amerika. Pengadaan pesawat tempur itu juga menggunakan ratusan pemasok dari seluruh pelosok Amerika, dan menyedikan 3,5 miliar dolar dalam dampak perekonomi tahunan bagi ekonomi Amerika.
Pernyataan Gedung Putih mengatakan perjanjian tersebut "memperkokoh hubungan kuat dan bertahan" antar kedua negara dan menunjukkan komitmen Amerika pada kemampuan pertahanan Saudi yang kuat sebagai "komponen kunci bagi keamanan regional."

Badan Imigrasi AS Bentuk Layanan Hotline bagi Tahanan

,
Kamis, 29 Desember 2011

Amerika menciptakan layanan hotline baru bagi orang yang ditangkap karena pelanggaran imigrasi untuk membantu menjamin hak-hak mereka.
Foto: Reuters
Para imigran, sebagian besar keturunan Hispanik, melakukan demonstrasi kebijakan imigrasi di Phoenix, negarabagian Arizona (foto: dok).
Jawatan Imigrasi dan Bea Cukai Amerika hari Kamis mengatakan layanan hotline itu ditujukan bagi orang-orang yang berpendapat mereka adalah "warga negara Amerika korban kejahatan."
Pengumuman ini datang di tengah laporan meningkatnya deportasi warga Amerika dan sejumlah negarabagian mengetatkan upaya penegakan peraturan mereka dan memberlakukan peraturan imigrasi baru yang kontroversial.
Layanan hotline baru ini menyusul laporan Departemen Kehakiman awal bulan ini yang menyatakan seorang sherif di Arizona dan wakilnya melanggar hukum hak-hak sipil karena terlibat dalam profil rasial warga keturunan Amerika Latin dan melakukan penangkapan yang melanggar hukum.
Arizona adalah salah satu negarabagian yang memperketat peraturan anti-imigrasi melalui jalur hukum yang saat ini dibekukan. Aturan itu mewajibkan polisi memeriksa status imigrasi seseorang dalam pemeriksaan rutin di jalanan, dan menangkap serta melakukan investigasi lainnya jika mereka mencurigai seseorang yang berada di negarabagian itu secara gelap. Aturan itu juga mengharuskan imigran yang terdaftar untuk membawa surat-surat keterangan diri mereka setiap saat, atau diancam dengan pidana penjara 30 hari.
Mahkamah Agung sepakat untuk mempertimbangkan keabsahan peraturan itu. Pemerintahan Obama mengatakan peraturan itu mencampuri otoritas pemerintah federal dalam kebijakan imigrasi.

Kebijakan Pemerintah soal BBM Tahun 2012 Belum Jelas

,

RSS Feeds RSS

 Jumat, 30 Desember 2011

Ketidakjelasan tersebut dapat dinilai dari pernyataan-pernyataan pemerintah yang masih tetap pada tahap analisa antara menaikkan harga BBM, membatasi pengunaan BBM atau menggunakan energi alternatif.

Foto: Iris Gera
Berbagai daerah mengalami kelangkaan stok BBM bersubsidi dan harganya naik hingga 400 persen di atas harga resmi (foto: dok).
Kebijakan yang akan diterapkan pemerintah terkait  bahan bakar minyak atau BBM bersubsidi 2012 masih belum jelas. Menurut pengamat minyak dan gas, Dirgo Purbo, pada tahun 2012 pemerintah akan lebih sulit menentukan kebijakan karena semakin menipisnya stok BBM di dalam negeri.
Kepada VoA di Jakarta Jumat (30/12), Dirgo Purbo, pengamat migas dari Pusat Kajian Strategis untuk Kepentingan Nasional menegaskan, apapun opsi yang akan dipilih pemerintah terkait BBM bersubsidi, pemerintah harus tetap  fokus mengendalikan pemakaian BBM bersubsidi.
Menurutnya pemerintah sebaiknya tidak terlalu banyak berjanji kepada masyarakat bahwa stok BBM bersubsidi aman karena pada kenyataannya harga BBM bersubsidi di berbagai daerah naik hingga mencapai 400 persen dari harga resmi yaitu menjadi sekitar Rp 15 ribu hingga 20 ribu per liter karena stok terbatas. Ia menegaskan  seharusnya sudah sejak awal tahun 2011 lalu pemerintah berani bersikap tegas dengan menaikkan harga BBM bersubsidi secara bertahap tergantung kondisi fluktuasi harga minyak mentah dunia.
Dirgo Purbo mengungkapkan, “Masyarakat kan tidak bisa membedakan mana yang subsidi mana yang nggak, yang penting sekarang pemerintah harus menyediakan dulu ada nggak fisiknya itu BBM, sekarang kondisi di lapangan yang dibilang subsidi barangnya nggak ada. Artinya, kalau udah nggak ada harganya berapapun kan akan dibeli oleh masyarakat, sekarang ini ada  delapan, sembilan provinsi suplainya nggak ada, apalagi yang mau disubsidi.”
Belum jelasnya kebijakan energi yang akan diterapkan pemerintah pada 2012 diakui Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Widjajono Partowidagdo. Kepada VoA, Wamen ESDM menjelaskan bahwa pemerintah memang masih terus menganalisa kemungkinan yang akan diterapkan meski diakui Wamen ESDM menaikkan harga BBM merupakan opsi terakhir.
“Jadi opsi itu masih tetap, menaikkan harga BBM, membatasi penggunakan BBM, mengganti dengan energi alternatif seperti gas dan sebagainya, memperbaiki transportasi umum itu akan mengurangi  pemakaian BBM, ya bisa kombinasi antara ini tergantung pada reaksi DPR dan masyarakat, kan APBN nya sudah menyatakan tidak naik tapi kalau APBNP atau Perpu itu bisa saja BBM naik,” ujar Widjajono.
Wamen ESDMN, Widjajono Partowidagdo menambahkan opsi apapun nantinya yang akan diterapkan tujuannya adalah mengurangi beban anggaran. Pemerintah ditegaskan Wamen ESDM akan terus berupaya mengurangi beban subsidi  energi terutama BBM yang setiap tahunnya rata-rata sekitar Rp 200 triliun. Anggaran subsidi menurut Wamen ESDM sebenarnya bisa dialihkan untuk kegiatan lain yang dapat  membantu masyarakat kurang mampu, diantaranya perbaikan infrastruktur hingga ke daerah-daerah.
Widjajono menambahkan, “Kan opsi itu ada opsi ekonomi dan ada opsi politik, tergantunglah kita mau pilih yang mana tapi kita harapkan itu akan selesai paling nggak dalam pengertian bahwa tahun depan ini  subsidi harus berkurang karena nggak fair kan subsidi harga tapi kemudian uang yang 200 triliun itu kita gunakan untuk (sesuatu yang) nggak perlu.”
Belum jelasnya kebijakan BBM bersubsidi yang akan diterapkan pada tahun 2012 membuat masyarakat resah terutama masyarakat kurang mampu.
Mahmud, petugas kebersihan disebuah perusahaan di Jakarta pasrah dengan apapun opsi yang akan diterapkan pemerintah namun ia berharap harga BBM tidak naik.
“Nggak setuju soalnya kan kalau kita orang-orang kecil ntar kalau BBM naik penghasilan malah kita dikit, kalau lima ratus perak sih ya nggak juga cuma gaji kita juga harus dinaikin,” demikian keluh Mahmud.

Korut Tegaskan Tak Ada Perubahan Kebijakan di Bawah Pemimpin Baru

,


Untuk pertama kali, Korea Utara menyebut Kim Jong Un yang baru berusia sekitar 28 tahun sebagai 'Pemimpin Agung'. Pyongyang juga mengirim pesan yang jelas kepada Korea Selatan bahwa segalanya akan berjalan dengan normal di Korea Utara.
Foto: ASSOCIATED PRESS
Kim Jong Un (tengah) dan beberapa pejabat tinggi Korut. Pyongyang menegaskan tidak ada perubahan apapun dengan pergantian kepimpinan di Korea Utara (29/12).
Hanya sehari setelah mengakhiri masa berkabung resmi, tanpa membuang waktu, Korea Utara mengumumkan sebaiknya dunia internasional tidak mengharapkan perubahan kebijakan apapun di Korea Utara.
Komisi Pertahanan Nasional Korea Utara mengeluarkan pernyataan. Komisi ini mengingatkan apa yang disebutnya sebagai ”politisi-politisi bodoh dari seluruh dunia” terutama dari Korea Selatan, agar tidak mengharapkan perubahan apapun dari Korea Utara.
Pernyataan itu disiarkan selama 11 menit, Jumat siang, di jaringan televisi Korea Utara. Pernyataan itu sangat keras terhadap Korea Selatan dan pemimpinnya. Presiden Lee Myung-bak disebut sebagai kepala kelompok pengkhianat yang “perbuatan jahatnya” telah mencapai puncaknya dengan tidak mengijinkan warga Korea Selatan memberi penghormatan terakhir kepada Kim Jong Il.
Penyiar yang membacakan pernyataan tersebut, menyebut Presiden Korea Selatan “tidak mendapat petunjuk yang benar” dalam membuat kebijakan terkait Korea Utara. Dia mengatakan Korea Utara akan menjauhi pemerintahan Presiden Lee selamanya.
Dosen Universitas Georgetown, Balbina Hwang yang seorang mantan penasehat Deplu Amerika urusan Korea, mengakui itu adalah ucapan yang keras, bahkan bagi standar Korea Utara. Ia mengatakan, "Bahasa yang dipakai, nada yang penuh kemarahan terutama mengenai Korea Selatan dan Presiden Lee Myung-bak, agak tidak biasa.”
Hwang mengatakan dia menangkap itu sebagai tanda kurangnya kepercayaan diri Komisi Pertahanan Nasional Korut yang sangat berkuasa itu. “Tidak ada institusi yang percaya akan kekuatan sendiri merasa perlu mengeluarkan kata-kata yang keras dengan cara yang keras pula," ujarnya.
Meskipun Presiden Lee telah mengambil sikap yang lebih keras terhadap Korea utara bila dibandingkan dengan dua pendahulunya, dalam beberapa bulan ini, ia telah memberi sinyal pendekatan yang lebih fleksibel terhadap Korea Utara.
Apakah sikap itu masih tetap sama, dengan dimulainya era Kim Jong Un di Korea Utara, akan terungkap di Seoul hari Senin.
Ketika Presiden Lee menyampaikan pidato Tahun Barunya. Para pejabat di Istana Kepresidenan “Istana Biru” mengatakan pada VOA, pidato itu sebagian besar akan ia tujukan bagi hubungan kedua Korea di masa datang.

Warga Penusupan Keracunan Setelah Makan Jamur Jerami

,
Antara Jateng – Sebanyak tujuh warga Desa Penusupan, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas, mengalami keracunan setelah mengonsumsi jamur jerami sehingga harus menjalani perawatan di Rumah Sakit Wisnu Husada, Notog.
Informasi yang dihimpun di RS Wisnu Husada, Selasa, ketujuh korban keracunan tersebut, yakni Sawen (35), Endah (15) Warsito (30), Karjudi (42), Rukun (25), Rohidah (25), dan Tariwen (50).
“Ketujuh korban keracunan tersebut masuk rumah sakit sejak hari Senin (7/11), sekitar pukul 21.30 WIB. Mereka mengeluh mual dan pusing setelah makan jamur,” kata Direktur RS Wisnu Husada, dr H Aris Sugiri.
Setelah diberi pertolongan, kata dia, seorang warga bernama Tariwen diperbolehkan pulang dan menjalani rawat jalan.
Sementara enam korban lainnya, lanjut dia, hingga saat ini masih menjalani rawat inap di RS Wisnu Husada.
“Seluruh korban diberi cairan infus. Kami juga berupaya mengeluarkan racun dari dalam tubuh mereka,” katanya.
Salah seorang korban, Sawen mengatakan, jamur jerami yang mereka makan tersebut dibawa kakaknya, Tariwen.
“Dia membawa 10 tangkai jamur jerami yang diperoleh dari sawah tetangga kami, Pak Narto (56),” katanya.
Menurut dia, jamur tersebut selanjutnya dijadikan sop untuk hidangan makan malam bersama keluarga setelah Shalat Maghrib.
Ia mengatakan, seluruh keluarga yang menikmati sop jamur tersebut merasakan mual dan pusing.
“Selang seperempat jam kemudian, kami merasa mual dan pusing,” katanya.
Oleh karena itu, mereka segera berobat ke bidan desa setempat hingga akhirnya dirujuk ke RS Wisnu Husada, Notog.

Hasanuddin: Naif Sekali kalau Ada "Sniper"

,
shutterstock ilustrasi
JAKARTA, KOMPAS.com - Selain menerjunkan pasukan lengkap dengan senjata api untuk menghadapi para pendemo, Kepolisian ternyata juga menyiagakan penembak jitu atau sniper sebelum membubarkan paksa aksi unjuk rasa di Pelabuhan Sape, Bima, Nusa Tenggara Barat.
Kalau ada pengendalian massa, itu naif sekali kalau ada sniper. Sepertinya menghadapi peperangan.
-- TB Hasanuddin

Hal itu diungkap perwakilan warga Bima dan para aktivis ketika menemui anggota Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) di Komplek DPR, Kamis (29/12/2011). Awalnya, mereka akan mengadu ke Komisi III. Lantaran DPR tengah reses, mereka diterima Fraksi PDI-P.
Mereka mengadukan kekerasan yang dilakukan Kepolisian ketika pembubaran unjuk rasa yang menewaskan tiga orang. Mereka juga memutarkan video sebelum kejadian. Dalam video terlihat dua sniper yang berdiri dan tiarap di atap gedung.
Wakil Ketua Komisi I DPR TB Hasanuddin mempertanyakan penempatan sniper itu. Dia menilai tindakan Kepolisian bukan bentuk pengendalian massa melainkan penyerbuan.
"Kalau ada pengendalian massa, itu naif sekali kalau ada sniper. Sepertinya menghadapi peperangan. Artinya menempatkan rakyat itu sebagai musuh yang harus dibunuh," kata Hasanuddin.
Arif Kurniawan, salah satu warga Bima mengatakan, masyarakat terpaksa menduduki Pelabuhan Sape lantaran selama satu tahun pemerintah daerah serta DPRD tidak menanggapi tuntutan warga agar penambangan dihentikan.
"Bayangkan, masyarakat di sana mayoritas petani bawang untuk diekspor ke luar daerah. Ketika lahannya akan dijarah, siapa yang mau terima?" kata Arif.
Dia membantah pernyataan Kepolisian bahwa warga anarkis dengan membawa parang dan tombak. "Petani identik dengan parang di sana. Kalau ke sawah bawa parang. Kenapa tombak? Karena untuk membunuh babi pakai tombak. Di sana banyak babi. Itu bukan untuk melawan. Kalau pun masyarakat melawan, pasti ada anggota yang cedera. Tapi mereka tidak melawan karena menginginkan persoalan secara damai," ucap dia.
Trimedya Panjaitan anggota Komisi III DPR mengatakan, Komisi III akan meminta penjelasan Kepala Polri Jenderal (Pol) Timur Pradopo terkait peristiwa itu setelah masa reses. Selain itu, Komisi III juga menjadwalkan akan berkunjung ke Bima.

Kembang Api di Monas Tetap Jalan

,
KONTAN/FRANSISKUS SIMBOLON Warga mengabadikan dengan kamera ponsel saat kembang api menghiasi kawasan Monumen Nasional, Jakarta, Rabu (22/6/2011). Kembang api digelar dalam memeriahkan HUT Ke-484 Kota Jakarta.
JAKARTA, KOMPAS.com — Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo menyatakan, kembang api di Monas saat perayaan malam Tahun Baru nanti tetap akan ada. Untuk itu, bagi warga Jakarta tidak hanya dapat menikmati momen pergantian tahun di Ancol atau Taman Mini Indonesia Indah, tetapi juga dapat menikmati di Monas.
Memang tidak ada acara atau pesta di Monas, tapi pada jam 00.00 akan ada kembang api di Monas nanti.
-- Fauzi Bowo
"Memang tidak ada acara atau pesta di Monas, tapi pada jam 00.00 akan ada kembang api di Monas nanti," kata Foke, sapaan akrab Fauzi Bowo, seusai jumpa pers Catatan Akhir Tahun Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, di Balaikota, Jakarta. Jumat (30/12/2011).
Kendati demikian, pada pukul 19.00 akan diselenggarakan zikir akbar di halaman Monas. Kegiatan zikir akbar saat perayaan malam Tahun Baru ini selalu dilakukan hampir tiap tahun dan diikuti ribuan orang dari sejumlah wilayah di Jakarta. "Bagi yang ingin berzikir dapat ikut serta di Monas. Bagi yang ingin berkunjung saja, juga tetap bisa," ujar Foke.
Meski demikian, Kepala Suku Dinas Kebudayaan Jakarta Pusat Dewi Susanti mengatakan, pada perayaan malam Tahun Baru nanti tidak ada kegiatan yang akan dilakukan di Monas. Namun, ia mengakui bahwa jadwal dapat berubah seketika tergantung dari arahan pimpinan. "Ada yang bilang ada, ada yang bilang enggak. Tapi, sejauh ini memang enggak ada," ungkap Dewi.
Menurut dia, kegiatan untuk malam Tahun Baru yang pasti ada di wilayah Jakarta Pusat adalah kegiatan bersih Kali Ciliwung yang berada di depan Pasar Baru. Nantinya juga akan menampilkan festival kebudayaan di tempat tersebut. "Selain bersih kali, nanti akan ada pertunjukan fashion show di jembatan dan juga pesta kembang api," kata Dewi.

The Korean American success story

,
The Kim family: From South Korea to the 'American Dream'
Of all the groups of immigrants coming to the US each year, Koreans are said to be among the most successful, many reaching the highest levels of achievement in this country in a single generation. The BBC's Katie Beck went to New York to meet some of those who came, and found the American Dream.
Sunhee and SeoJun Kim came to New York City from South Korea in 1986. They immigrated with hopes of giving their son Ron, then seven, every advantage and opportunity.
When the Kims arrived, along with thousands of other young Korean families, the social make-up of the city, and indeed the country, was undergoing big changes.
Two decades earlier, the US had done away with racially-based immigration quotas and, along with other immigrant groups, Koreans benefited from the new laws.
Entrepreneurs Many settled in Los Angeles and New York, and went into business. Nearly half of Korean immigrants to the US opened their own businesses, commonly starting Korean import shops and greengrocers, and later dry cleaning firms and nail salons.
Professor Pyong Gap Min, of Queens College in New York, who has studied Korean immigration trends for more than 30 years, says that as older generations of immigrants in New York moved on, a space was created for Koreans to fill.
Sunhee and SeoJun Kim in their grocery store (Image courtesy of Ronald Kim) Sunhee and SeoJun Kim moved from South Korea in 1986 and opened the East of Eden Grocery store
"The Jews, Italians, Irish, Greeks, had retired, particularly in minority neighbourhoods where white business owners moved out, so this new immigrant group filled that niche," he says.
The Kims had another advantage when they arrived. A friend of Mr Kim's from his days in the Korean marine force, TaeHun Cho, had moved to New York a few years before and was selling his business.
The Kims had sold their assets in Korea and had some money to invest so they leased the shop, and opened the East of Eden Grocery store in New York's Upper East Side.
Like other Koreans in the US, the Kims spoke little English, so they saw going into business for themselves as their best option.
"Although very much college educated and middle class, Koreans had a severe language barrier, larger than other Asians, so they could not find jobs commensurate with their education," says Prof Min.
Ron Kim, now in his thirties and working in politics in New York, says the Korean community that existed in New York when his family arrived was crucial to their initial success.

Korean Americans

  • US is home to second largest Korean diaspora community, behind China
  • There are more than 1.5 million Korean Americans in the US
  • Main concentrations of Korean immigrants in LA and New York
  • The peak year for Korean immigration to the US was 1987
  • Roughly 25,000 Koreans immigrate to the US each year
  • 80% of Koreans who immigrated to the US in 1965 were women
  • Sources: US Census Bureau; Prof Pyong Gap Min
"Without that strong network of Koreans that helped each other it would have been much, much more difficult not only to gain access to an opportunity to make money, but also an opportunity to get capital to start a business," he says.
Like other immigrants before them, Koreans supported each other, often pooling money to provide no interest loans to help the newest immigrants start their businesses.
John Kim, of the Korean Produce Association in New York, whose parents immigrated and opened a sweet shop when he was a boy, recounts a common adage describing how important it was for new immigrants to know someone before arriving in a new country.
"As a new immigrant, the saying goes, 'Whoever picks you up from the airport, whatever business they are in is what you will go into'."
'Driven group' Success, of course, also depends heavily on hard work and dedication. It is important to remember that immigrants are a special group unto themselves.

Tweeting the Dream

Can you define the American Dream in 140 characters or less? Send BBC_WNA a tweet and include #americandream - we'll publish the best at the end of the week.
Jacob Vigdor, a professor of public policy and economics at Duke University specialises in immigration and assimilation patterns.
He says people who choose to leave the comforts of a shared culture and language, to strike out on their own in a foreign country, are a particularly motivated, ambitious and driven group.
"The dream, the myth, the legend, whatever you want to call it, is attractive to a certain type of person," he says.
To encourage business, the Kims opened their shop 24 hours a day, seven days a week. The couple worked incredibly long hours, driving out to the Hunts Point market before dawn, filling their truck with fruits and vegetables to stock their shelves.
Although Ron remembers spending many hours alongside his parents, they made it clear to him early on that this business was not for him. Instead, he was encouraged to make education his highest priority.
While lack of job opportunities and political insecurity in South Korea pushed people to leave, many also wanted to escape the very competitive education system there, and they saw more access to education in the US.
A kinship with America also contributed to the number of Koreans immigrating to the US each year, according to Prof Min. The US and South Korea have shared a unique relationship since US involvement in the Korean War from 1950 to 1953.
The large presence of US servicemen in Korea, many of whom married Korean women or adopted Korean orphans while stationed there, along with the availability of American television, popularised American culture in Korea.
Koreans are still immigrating to the US in large numbers - about 25,000 new immigrants come to the US each year - but the people arriving here and their reasons for coming are very different from those who came before them.
New opportunities The opportunities that existed when the Kims came over are gone now. In the mid-1980s, it would have cost about $5,000 (£3,100) to start up a grocery store in New York City. Now the cost would be closer to $500,000.
Ron Kim with his parents at his high school graduation (photo courtesy of Ron Kim) Ron's parents, pictured here at his high school graduation, considered education very important
And the national trend has moved away from independently owned businesses altogether. The East of Eden Grocery store on 79th and York Avenue is now a Chase Bank.
Although many first-generation immigrants like the Kims toiled away in jobs below their education level, only 9% of second-generation Koreans are self employed now.
Recent data show that nearly 60% of second-generation Korean Americans now complete a four-year college education, and many Koreans in the US today practise professions such as medicine and law. There is also a perceptible increase in the number of Koreans, like Ron Kim, going into politics.
"In New York City we are seeing more and more Korean Americans, younger generations, running for office and trying to break that glass ceiling," says Ron.
Conditions in South Korea have changed too. Ron says that if his parents had stayed even a few years longer, they would have been a lot better off.
By the 1990s, South Korea's economy was on the rise and property values had shot up, making it less necessary to leave the country in order to find opportunities.
Ron says his parents made huge sacrifices for him to grow up in America and have access to the endless opportunities they saw in this country.
He acknowledges that knowing what he does now, he might not have made the same decisions his parents made.
"If I were in their shoes, would I have had the courage and the bravery to do that? Honestly, I don't know."
This article is part of a week-long series exploring the past, present and future of the American Dream. You can watch Katie's TV report on Wednesday's BBC World News America on PBS and the BBC World News channel.

Followers

 

ajang-silaturahmi | Template design by dedycom | Powered by dedyriz@gmail.com